Guru MI/SD Muhammadiyah se-Surabaya melakukan recharge ilmu mata pelajaran Matematika. Dalam kegiatan yang dikemas Workshop Matematika Nalaria Realistik (MNR) berlangsung pada Jum’at-Sabtu (6-7/9/2019) di Gedung Dakwah PDM Kota Surabaya dan Minggu (8/9/2019) di SD Muhammadiyah 4 Pucang, Surabaya. Dua guru SD Muhammadiyah 26 Surabaya ikut serta untuk mengikutinya. Namun, Zharotul Azizah, S.Pd dan Zenny Karina Ningrum, S.Pd tidak hanya mengerjakan soal-soal mapel yang identik dengan rumus dan angka belaka.

Zenny Karina Ningrum memaparkan role model mengajar mapel Matematika harus memberikan pemahaman konsep yang benar. “Mengerjakan soal2 matematika yg melatih nalar dan komunikasi. Kita harus merencanakan kesusahan untuk mendapatkan kebahagiaan, misalnya mencoba mengerjakan soal nalar setiap hari berapa soal,  sehingga terbiasa mengerjakan soal nalar dengan baik,” tegasnya.

Dalam mengerjakan soal Matematika, lanjut Ustadzah Zenny, sangat dibutuhkan alat peraga sebagai penunjang mengajar. “Selain itu, mengajar Matematika harus menyenangkan yang disesuaikan dengan dunia anak jenjang SD, yakni metode permainan,” katanya.

Sementara Zharotul Azizah, S.Pd menyatakan pelatihan di hari pertama itu mengerjakan pretest terlebih dahulu. Kemudian disuguhi materi-materi mengenai kesalahan konsep matematika yang selama ini yang di berikan ke anak didik secara mentah-mentah. “Dalam kesempatan yang sama, kami diberi kesempatan memainkan permainan berlian matematika. Di permainan tersebut juga sembari belajar operasi bilangan bulat. Kita juga dapat buku mengenai matematika dengan nalar,” terangnya.

Di hari kedua diberi materi mengenai ‘merencanakan kesusahan’. “Disini maksudnya materi harus bersusah susah terlebih dahulu untuk kemudian bisa menikmati hasil dari apa yang kita usahakan. Alhamdulillah selain ilmu matematika juga ada ilmu agamanya,” urai Guru yang akrab dipanggil Ustadzah Azizah.

Lalu di akhir sesi, diberikan post test. “Namun, sebelum post test ini, diberi tahu nilai pretest kami, Alhamdulillah SD Muhammadiyah 26 merupakan satu-satunya sekolah yang kedua gurunya mendapat nilai 100,” ujarnya. (Bar/GLH)